Cappuccino Berinisial

Cappuccino

sumber

Aku sedang duduk menghadap jendela di sebuah kafe yang sedang diguyur hujan sambil menikmati alunan lagu Coldplay yang judulnya paling terkenal, Fix You. Sebentar, aku sedang mengingat-ingat apa yang sedang kupikirkan sekarang. Oh iya, tentang seorang gadis yang menyukai hujan. Gadis manis yang pernah membuatku jatuh cinta lewat percakapan hangatnya beberapa waktu lalu, tetapi belum cinta itu bersambut –maksudku bertemu– tiba-tiba dia pergi dengan seseorang yang kukenal dengan baik.

Di hadapanku kini secangkir cappuccino manis tergeletak tak berdaya, art busanya tertulis dengan jelas inisial seseorang, ya gadis itu. Kupastikan barista kafe ini masih mengingat pesananku dulu, bodohnya kali ini aku lupa mengingatkannya untuk tidak lagi melakukan hal ini. Tapi biarlah, kucatat barista itu sebagai pengingat yang baik.

Gadis itu…–

Mungkin aku sedang merindukannya kini.

Ah tidak, tidak mungkin. Bagaimana aku bisa merindukannya, sedangkan bertemu juga belum, lagipula aku tidak pernah lagi mengingatnya sejak sebulan yang lalu. Cinta memang bisa selucu itu.

Lalu apa maksudku menulis cerita ini? Anggap saja aku ingin menuliskan hal yang sudah aku lupa.

Aku sudah lupa bahwa pernah mencintainya. Iya, pernah, tetapi pekerjaan menyenangkan itu sudah tidak pernah kulakukan lagi.

“Hei, hujannya udah reda, pulang yuk.” Tiba-tiba suara seseorang membuyarkan lamunanku. Aku hampir lupak bahwa aku sedang duduk berdua bersamanya.

“Oh iya, yuk.” Aku mengatakannya sambil mengaduk secara asal cappuccino yang belum kuminum sama sekali.

Dia tertegun melihatku. “Eh, itu kok kopinya kamu tinggalin? Kan belum diminum, dibungkus aja.”

“Kan kamu ngajak pulang barusan. Oh iya lupa, yaudahlah biarin ditinggal aja. Lagipula udah dingin juga,” jawabku asal.

Sebentar biar kuralat, baca ulang kalimat yang kuucapkan di atas menjadi. “Biarkan saja, bukankah hidup itu ada yang menetap dan ada yang pergi?”

Lalu kami beranjak ke meja kasir. Aku memanggil sang barista kopi yang membuat cappuccino itu, sementara seseorang yang menemaniku itu pergi ke toilet.

“Mas Aris, mulai sekarang pesanan gue diganti ya, inisialnya jadi ini,” ucapku sambil membisikkan nama seorang gadis yang ingin sekali kutemui. Inisialnya ada di huruf pertama judul cerita ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s