Sepucuk Surat Selamat Tinggal

surat-lusuh

“Hai, apa kabar, Ndre? Maaf aku datang terlambat.”

Hmm…, baik.”

“Kamu gak berubah ya…”

“Memang nggak ada yang berubah,” jawab Andre singkat.

Nia memperhatikan sekilas raut wajah lawan bicaranya sambil membetulkan posisi duduk. Rok selutut bermotif polkadot hitam putih yang dikenakannya tertekuk rapi di antara kursi kayu bercat cokelat mengkilap. Nia menyapu pemandangan sekitar sambil sesekali menggeser ekor matanya ke arah Andre yang sedang sibuk dengan handphone-nya.

“Kamu udah mesen makanan atau minuman?” tanya Nia dengan nada hati-hati.

“Nggak, aku di sini nggak bisa lama-lama, Ni,” ucap Andre yang masih berkutat dengan iPhone 5 miliknya.

“Yaudah aku pesen minum dulu, kamu mau pesan apa, Ndre?”

“Nggak usah, aku kan udah bilang nggak bisa lama-lama di sini,” jawab Andre ketus dengan pandangan tajam.

Nia tampak kesal dengan jawaban Andre barusan. Sebenarnya dia ingin bertemu Andre untuk meminta maaf atas kejadian beberapa tahun silam. Namun tampaknya Andre benar-benar masih marah dan tidak benar-benar ingin bertemu dengannya. Terlihat jelas dari jawaban dan gelagat Andre.

Nia tidak ingin memperkeruh keadaan, kemudian dia mengangkan telunjuk tangan kanannya ke atas untuk memanggil pelayan yang bersiaga di salah satu sudut kafe bernuansa eropa ini. Beberapa detik kemudian seorang pelayan wanita menghampirinya sambil membawa menu hidangan yang disajikan kafe ini.

“Mbak pesen ice lemon tea-nya satu ya, sama french fries-nya juga satu,” ujar Nia meminta pesanannya setelah melihat menu hidangan yang diberikan pelayan kafe itu.

“Tumben, biasaya kamu mesen hot cappuccino.” Tiba-tiba Andre berkomentar. Pelayan wanita yang sedang menulis pesanan Nia terlihat kikuk dan bingung dengan komentar Andre barusan.

“Maaf mbak, jadi mau mesen ice lemon tea atau cappuccino?” tanya pelayan itu.

ice lemon tea aja mbak. Kan yang mesen saya, bukan dia,” jawab Nia sedikit kesal. Setelah menulis pesanan Nia, pelayan itu langsung buru-buru melipir ke dapur tidak jadi mengkonfirmasi jika ada tambahan pesanan. Sepertinya pelayan itu mencium bau-bau pertengkaran kedua tamunya itu.

Dan benar saja…

“Kamu berubah ya, Ni. Biasanya kamu mesen hot cappuccino, semenjak kapan?” sindir Andre.

“Apa sih Ndre, kok kamu ngomong gitu? Nada bicara kamu kayak orang ngajak berantem deh,” ucap Nia, “aku ke sini pengin ketemu sama kamu untuk ngobrol sama kamu, bukan mau berantem.”

Wajah Andre memerah. Dia berusaha tenang, tetapi dia teringat lagi kejadian lima tahun lalu. Ketika dia pergi ke Amerika untuk kuliah. Dan saat keberangkatannya, dia sangat berharap Nia datang untuk menemaninya, tetapi hingga pesawat take off, Nia tidak pernah datang. Lalu sehari saat dia tiba di Washington, Nia baru mengabari alasan dia tidak datang, dengan alasan yang begitu melukai hati Andre. Semenjak saat itu mereka tidak pernah berkomunikasi lagi sampai pada pertemuan ini.

“Yaudah, kamu mau ngomong apa, Ni?” tanya Andre. Kali ini dia menurunkan nadanya lebih rendah, meskipun Nia menangkap suara Andre masih marah.

Nia menundukkan kepalanya, dia terdiam memikirkan kata-kata apa yang harus dia ucapkan kepada Andre. Dia ingin meminta maaf atas perbuatannya dulu. Tanpa sadar dia jadi malah melamun dan rasa bersalah yang sangat besar mulai memenuhi dadanya. Rasa sesak itu muncul perlahan setelah bertahun-tahun lamanya.

“Halo, Nia Febriani Soraya, kamu mau ngomong apa?” tanya Andre mengulangi pertanyaannya.

“Maa.., maafin aku, Ndre. Maafin aku atas perbuatanku dulu, please. Aku merasa sangat bersalah. Aku pengin kita kayak dulu lagi, Ndre…,” ucap Nia terbata-bata.

Hmm…,” gumam Andre. Dia menghembuskan napas berat. Kedua tangannya mengepal menopang dagunya.

Hmm…, apa? Kamu mau kan maafin aku?”

“Entahlah, Ni. Aku rasa pertemuan ini nggak akan merubah segalanya seperti dulu lagi–”

“Tapi Ndre…, ini udah lama…”

“Tapi apa, Ni? Udah lama? Lalu apa hubungannya? Memangnya karena udah lama, itu bakal bikin aku melupakan ini semua?”

“Iya, maafin aku, Ndre,” ucap Nia. Pemandangan kedua matanya mulai kabur. Namun dia masih menahannya dengan meremas keras tisu yang terletak di samping tas jinjing berwarna biru tua merk Gucci miliknya.

Kini, Andre memperhatikan wajah Nia yang mulai menangis terisak. Sebenarnya, dia tidak pernah sampai hati untuk berbicara seperti itu kepadanya. Kepada Nia, gadis yang dia cintai hingga kini sekaligus sahabatnya semenjak kecil. Tetapi, mengingat kejadian lalu dan kenyataan kini yang benar-benar menghancurkan hatinya.

“Ni, kamu tau rasanya jadi aku? Kamu tau gimana sakitnya perasaan aku lima tahun lalu?”

“Maa…–”

“Dan kamu tau seberapa berat aku menjalani kehidupan ini setelah kejadian itu? Enggak kan?” Nada bicara Andre mulai meninggi, dia tidak lagi mempedulikan pandangan orang-orang di sekitarnya yang mulai memperhatikan dirinya dan Nia. Dari arah dapur, pelayan yang ingin mengantarkan pesanan Nia pun mengurungkan niatnya. Orang-orang yang ada di kafe ini mulai merasa tidak nyaman, terlebih Nia.

“Ndre…, kecilin suara kamu. Aku mohon…,” pinta Nia kepada Andre yang wajahnya sudah merah padam.

“Enggak Ni, kamu harus tau ini, biarin aja mereka ngeliatin. Mereka nggak tau apa-apa,” ucap Andre, “kamu tau gimana tersiksanya aku ketika aku ngelupain perasaan aku terhadap kamu?”

“Maafin aku, Ndre…, tolong…” Air mata Nia sudah tidak bisa ditampung lagi. Dia menangis.

“Kamu tau rasanya mencintai orang yang gak pernah bisa mencintai kamu? What did you mean when you kissed my lips long time ago, ha? Ketika kamu mengartikan sebuah kecupan manis di bibir kamu dari seorang yang benar-benar dekat dengan kamu? Kamu tau aku mengira apa maksud dari itu? Cinta, Ni…, cinta…,” jelas Andre.

Nia terdiam mendengar pertanyaan Andre, dia tidak bisa menjelaskan apa-apa. Dia mengingat perbuatannya itu, dia menyesal karena terbawa suasana ketika mereka berdua menikmati pemandangan pantai Anyer saat study tour enam tahun lalu.

Suasana di kafe itu mulai tegang. Satu per satu, orang-orang yang duduk di sekitar Andre dan Nia mulai beranjak dari tempat duduknya. Mereka tidak ingin menyaksikan tontonan gratis berupa pertengkaran dua orang pasangan –yang entah pacar atau suami-istri– pada waktu mereka menikmati makanannya. Nia sendiri sudah sangat malu sekali dengan perbuatan Andre ini, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dia kesal, marah, sedih, sekaligus pasrah dengan suasana yang dibuat Andre kini.

Andre menghembuskan napas sekali lagi, dia tau dirinya sudah sangat keterlaluan. Tetapi dia tak dapat menahan emosinya lagi, dia ingin menjelaskan apa yang dia rasakan dulu kepada Nia, meskipun dengan cara yang salah.

“Ni, kamu masih inget terakhir kali percakapan kita?” tanya Andre yang masih dalam keadaan sangat emosi.

“….” Tidak ada jawaban dari Nia, karena Nia sedang menutupi wajahnya. Yang terdengar hanya isak tangis yang samar-samar mulai terdengar jelas.

“Kamu inget saat kita berdua pengin ngomong sesuatu dalam waktu yang berbarengan dulu? Saat itu aku pengin bilang kalo aku sayang sama kamu. Dan sebelum aku ngomong itu, kamu bilang bahwa kamu jadian sama Dimas.” Andre menjelaskan percakapan terakhir mereka berdua. “Dan, saat kamu tau bahwa aku sayang sama kamu. Kamu malah tertawa dan bilang aku bercanda? Kamu bilang bahwa kita ini sahabat, kita ini sahabat, nggak lebih. Kamu tau perasaan aku saat itu?” lanjut Andre.

“Maaf Ni, ini memang salah aku. Seandainya aku nggak salah mengartikan maksud kamu saat kamu mencium aku. Dan, aku sebenarnya nggak pernah membenci kamu. Aku hanya benci dengan perasaan aku sendiri. Kenapa aku cinta kamu sampai sekarang. Aku cuma gak pengin makin tersiksa dengan perasaan ini, Ni. Terlebih saat kamu lebih memilih pergi sama Dimas dibanding nemenin kepergian aku ke Amerika. Kamu tau rasanya, Nia? Rasanya…, sakit banget. Mungkin kalo pemikiran aku pendek dan konyol, aku pasti bunuh diri.”

“Maafin aku, Ndre. Maafin semua perbuatan aku terhadap kamu dengan semua kesalahan dan kebodohan yang aku lakukan pada persahabatan ini. Kita udah saling kenal selama lebih dari 16 tahun. Maafin aku karena udah ngehancurin semua ini.” Kembali Nia meminta maaf. Dia merasa sangat bodoh dan bersalah. Dia sadar telah sangat menyakiti Andre.

Mendengar itu, tiba-tiba Andre mengeluarkan sepucuk surat dari kantong dada kiri kemeja kotak-kotak warna biru muda yang dia kenakan. Dia melempar pelan surat berwarna putih ke hadapan Nia. “Apa maksud dari surat ini?

Nia menatap kosong sepucuk surat yang teronggok di hadapannya. Surat itu. Surat yang ia kirimkan tiga bulan lalu. Surat yang berisi permintaan maafnya sekaligus permintaan untuk bertemu Andre di kafe ini. Dan juga, di bagian akhir suratnya terdapat ungkapan perasaan Nia terhadap Andre, setahun setelah Andre pergi ke Amerika tanpa ada kabar lagi setelah itu.

“Maafin aku, Ndre, aku menyesal telah melakukan ini semua. Setahun setelah kepergian kamu, aku gak pernah benar-benar biasa hidup tanpa kamu. Aku kangen kamu, Ndre. Aku sayang kamu. Aku baru menyadarinya setelah kita benar-benar nggak berkomunikasi setahun lamanya. Aku butuh kehadiran kamu, bahu kamu, lengan kamu, dan pelukan kamu. Aku kangen semua tentang kamu. Aku mohon maafin aku. Setelah aku dan Dimas berakhir, aku gak pernah lagi menjalin hubungan dengan pria lain. Aku menunggu kamu, Ndre, aku kangen kamu. Aku harap, masih ada kesempatan untuk aku memperbaiki semua ini. Aku menunggu kamu kembali untuk bertemu dan menjalani semua ini dari nol lagi.”

“Surat itu…–”

“Ya, surat itu. Setelah aku membacanya, aku rasa nggak perlu ada yang harus diperbaiki. Karena udah hancur total,” ucap Andre dengan nada dingin.

“Tap–” ucapan Nia terpotong.

FOR GOD’S SAKE, Ni. AKU UDAH GAK PEDULI LAGI DENGAN SEMUA INI, DENGAN PERSAHABATAN KITA! DAN SETELAH SEMUA INI TERJADI KAMU DENGAN MUDAHNYA…, DENGAN MUDAHNYA JUGA KAMU MENULIS SURAT DAN BILANG KALO KAMU KANGEN DAN SAYANG SAMA AKU?! ANGGAP AJA KITA GAK PERNAH KENAL!” Andre membentak Nia sambil menggebrak meja dengan kasar lalu pergi meninggalkan Nia.

Suasana kafe itu menjadi mencekam, bukan tegang lagi. Semua mata tertuju padanya, selebihnya dia hanya bisa menangis dan merasakan rasa sakit ditambah sesal yang kini meremas jantungnya. Nia sudah tidak lagi memikirkan rasa malu yang dia rasakan kini.  .

Pelayan wanita yang tadi takut mengantarkan pesanan Nia kini menghampiri meja Nia dan memberikan pesanannya. Pelayan itu berkomentar asal, “Mbak, sabar ya, yang sabar. Dunia memang kejam, apalagi cowok zaman sekarang. Hih. Ini minumannya diminum dulu, mbak, supaya mendingan.” Lalu mata pelayan itu tidak sengaja melihat surat yang tergeletak di meja dan bertanya, “Mbak, itu suratnya nggak dibaca?”

Mendengar pertanyaan dari pelayan tersebut, isakan tangis Nia mulai mereda. Dia mengatur napasnya agar kembali normal. Setelah merapikan wajahnya yang terlihat sangat kacau, dia mengambil surat yang dahulu ia kirimkan untuk Andre. Nia pikir untuk apa dia membaca ulang surat itu, lalu dia meremas hendak membuang surat itu. Namun dia merasa ada satu sesuatu di dalam surat itu saat dia meremasnya. Dengan hati-hati dia membuka amplop surat itu, dan dia membukanya. Dia kaget ada selembar kertas dan fotonya bersama Andre saat SMA dulu.

“Dear Nia, maafkan aku atas perbuatanku. Sejujurnya, aku gak sanggup melakukan semua ini, terlebih dengan cara yang kasar seperti itu. Tapi kalo aku nggak melakukannya, aku gak akan pernah bisa jauh dari kamu. Aku gak akan pernah bisa mengakhiri semua ini.

Maafin aku, Nia. Semua ini salah aku karena aku jatuh cinta sama kamu. Kamu benar, kita ini sahabat. Tapi kita berdua kompak menghancurkannya. Sekarang udah nggak ada lagi kata ‘kita’ untuk selamanya. Maafin aku, sampai saat ini perasaan cinta aku terhadap kamu belum berubah sedikit pun. Itulah sebabnya aku melakukan hal ini sama kamu.

Satu hal yang sebenarnya harus kamu tau. Sebenarnya aku ingin kembali ke kamu, tapi takdir dan rencana tuhan berkehendak lain. Biarlah aku tetap mencintai kamu dengan cara yang lain, dengan membenci perasaan itu sendiri. Kita sekarang udah mempunyai kehidupan masing-masing. Mari ciptakaan kebahagiaan itu sendiri dengan cara dan semampu kita. Aku yakin kamu bisa.

Dan, sekali lagi maafin aku karena udah menyakiti kamu. Jauh dari semua ini, aku hanya ingin kita memiliki kebahagiaan masing-masing. Dan kini aku sudah memilikinya. Maafin aku. Aku udah punya anak dan istri sekarang. Nggak mungkin aku meninggalkan mereka demi cinta dari masa lalu. Hingga kini, aku pun masih belajar mencintai istriku meskipun dalam keadaan masih mencintai kamu. Aku hanya nggak ingin menyakiti orang-orang yang aku sayangi karena masa lalu kita. Aku menyayangi mereka, maafin aku. Semoga kamu cepat menemukan kebahagiaan kamu sendiri. Semoga kamu selalu baik-baik saja.”

Selesai membaca surat itu, Nia pingsan. Pelayan yang barusan mengantarkan minuman pesanan Nia kaget melihat Nia jatuh ke lantai. Saking kagetnya dia menjatuhkan nampan dan langsung memanggil teman-temannya untuk menggotong Nia.

Dan semenjak itu, tiada lagi kehadiran Andre.

Advertisements

6 thoughts on “Sepucuk Surat Selamat Tinggal

  1. Kak ceritanya bagus banget. Boleh aku share di wattpad tapi tetep aku cantumkan nama kakak di wattpad. Cuma aku ganti nama tokohnya kak. Plisss respon yah kak. Makasih. Aku suka semua cerita-cerita kakak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s