Menyesalkah Kau?

Kau menjajakan kepalamu pada lingkar leherku.
Tidak peduli sorot mataku menjerit.
Jemarimu tergesa-gesa mencekik leher sedotan es coklat yang ingin segera larut mati.
Tak ada cinta di sana, hanya rindu yang menguap seiring bibirmu yang terburu-buru melenyapkan sisa coklat di gelas bening yang tak peduli keberadaan kita.

Sudah lama kita tak berjumpa, entah sudah berapa purnama.
Yang kuingat terakhir kali darimu adalah air mata beserta ucapan maaf dan selamat tinggal.
Tak ada lagi yang kuingat selain itu, sebab seorang laki-laki telah menunggumu di balik kendaraan roda empat, sambil tersenyum penuh kemenangan.

Kemudian suatu hari kau menghubungiku dengan kabar basi, yang akhirnya mengantar kita ke sini, di sebuah kedai kopi.

Kini kau kembali dari pecundang itu, menyesalkah kau? Jahanam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s