Sepenggal Cerita di Dalam Kafe

image

Kenapa waktu seolah berjalan lambat saat aku mencoba melupakanmu?

Seorang pria melirik jam tangan yang dikenakannya. Pukul 16.54. Dia menghembuskan nafas berat. Rambut gondrongnya acak-acakan. Kemeja panjang berwarna hijau toska yang membungkus tubuhnya digulung selengan. Kedua bola matanya menatap berpasang-pasang remaja yang sedari tadi duduk berpapasan dengan kekasihnya.Wajah ramahnya terlihat lelah. Senyumnya pahit seperti kopi yang diabaikannya sejak 30 menit yang lalu.

Dia sepertinya ke tempat itu lagi. Ke sebuah taman yang dulu sering ia kunjungi bersama seorang gadis. Tepatnya, mantan kekasihnya satu tahun yang lalu. Satu-satunya manusia di bumi ini yang mampu membuatnya nyaman di keramaian.

“Fika apa kabar kamu di sana?” tanya pria itu dalam hati.

 

Perhatian pria itu beralih pada cairan hitam yang tergenang di gelas plastik bekas kemasan air mineral. Tatapannya kosong. Telunjuk kanannya tanpa sadar mengetuk bangku kayu yang dia duduki. Pikirannya gelisah.

Tuk… Tuk… Tuk…

Menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang.

 

“Mas Raka…” sapa wanita paruh baya yang mengantarkan kopi pesanannya tadi.

“Hei…”

“Mas Raka…” ulang wanita itu.

“Eh, iya Fika. Ada apa?” Lelaki bernama Raka itu sontak kaget dan berteriak kecil. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat orang yang memanggilnya barusan. Matanya terbelalak.

“Maaf mbak Rani, saya tadi melamun. Hehehe,” ucap Raka tersenyum malu dan meringis mendengar ucapannya sendiri. Kepalanya digaruk-garuk walau tidak terasa gatal. Ia salah tingkah.

Wanita paruh baya yang bernama Rani itu memicingkan matanya. Dia terdiam. Dia menatap iba melihat pria yang hadapannya itu. Kemudian dia tersenyum iseng, “Mas Raka masih belum ngelupain mbak Fika, ya? Sudah satu tahun lho mas,” celetuk Rani, “dulu pas mas Raka sama mbak Fika masih sering ke sini anak saya masih digendong. Sekarang sudah bisa jalan. Cari yang baru dong mas. Hehehe.”

“Terkadang orang yang kita sudah tetapkan untuk menjadi pemilik hati kita sepenuhnya bisa dengan mudah beranjak pergi, mas. Tapi, percayalah cuma waktu yang paling mengerti, coba mas Raka belajar memaafkan diri sendiri dan merelakan mbak Fika, supaya mas Raka bisa kembali menata diri.” tutur Rani menasihati Raka. Dia mengusap-usap pundak Raka. Menghiburnya.

Hening…

Raka tersenyum simpul menanggapi nasihat Rani, kepalanya ditumpu pada kepalan dua tangannya. Mata Raka mengerling sesekali mengingat-ingat saat dia dan Fika duduk bersebelahan dan menikmati keheningan bersama secangkir kopi.

“Yah, emang sebaiknya begitu, mbak. Tapi, sayangnya gak semudah itu,” ucap Raka singkat. Dia tertunduk. Senyum pahitnya terbit lagi. Secangkir kopi di sebelahnya seakan mengerti kenyataan yang sedang dialami Raka. Warna hitam pekat cairan itu jelas menampakkan isi hati Raka sekarang. Tanpa sadar mata Raka bergerak ke arah jendela yang berada tepat di sampingnya. Dia memperhatikan gerakan matahari yang perlahan turun.

Rani memperhatikan Raka yang kelihatannya ingin menyudahi percakapan ini.

“Iya sih mas, cuma kalo kita gak selalu mencoba. Ya kita gak akan pernah bisa. Saya doain semoga mas Raka dapet pacar yang lebih baik dari mbak Fika, yah,” ujar Rani tulus, “Maaf, saya jadi ngingetin mas Raka tentang mbak Fika lagi.” lanjut Rani.

“Iya gak apa-apa mbak, terima kasih buat nasihatnya. Kadang, saya juga merenungi kondisi saya sekarang. Menyedihkan, ya,” ucap Raka sambil tersenyum lirih. Rani tidak berani berkomentar lebih jauh lagi

Kemudian Raka mengeluarkan dompet kulit berwarna coklat pohon dari saku kanan celana jeans belelnya. Dia terketuk. Dompet yang sedang dia keluarkan ini adalah kado ulang tahun dari Fika dua tahun yang lalu. Raka menghembuskan nafas berat lagi untuk kedua kalinya.

“Ini, mbak.” Raka memberikan selembar uang lima puluh ribu. Ketika menutup kembali dompetnya. Matanya tak sengaja berpapasan dengan mata gadis yang begitu dia cintai lewat selembar foto yang masih dia simpan dengan aman di dompet itu. Dadanya seketika sesak. Pikirannya langsung terbayang senyum gadis itu. Gadis manis berambut panjang yang mempunyai lesung pipit dan gigi gingsul. Gadis yang membuat Raka jatuh cinta dengan senyum dan tatapannya. Dia begitu merindukan gadis itu.

“Eh, saya enggak bermaksud nagih uang kopi,” sanggah Rani tidak enak, “wong saya cuma pengin ajak mas Raka ngobrol aja. Soalnya saya perhatikan mas Raka diem aja. Takut tiba-tiba kesurupan. Hihihi.”

“Ah mbak Rani ini bisa aja. Saya gak apa-apa kok. Biasa saya lagi banyak pikiran. Kerjaan saya lagi banyak banget. Ini uangnya, ambil aja kembaliannya.” kilah Raka.

Rani menatap lagi mata yang terlihat sendu itu. Dia merasa bisa merasakan beban perasaan yang sangat berat di situ. Sebagai salah satu orang yang paling dekat dengan Fika dulu. Rani jadi merasa bersalah telah membicarakan masa lalu Raka. Dia masih ingat pertama kali Fika mengajak Raka ke kafe tempat dia bekerja sekarang.

“Ini mbak uangnya kok malah jadi si mbak yang melamun. Hahaha.” Raka memindahkan uang yang ia genggam ke tangan Rani.

“Iya, mas terima kasih ya. Saya yang jadi kepikiran tuh aduh saya ini udah punya anak masih aja ganjen ya. Heheheh. Saya tinggal dulu ya mas.” Rani beranjak pergi.

Sepeninggal Rani. Raka masih bergeming memegang dompet kulit itu. Dibukanya dompet itu dengan hati-hati. Dia menatap wajah gadis yang teramat dicintainya lewat selembar foto dengan mata sendu. Kemudian dia bergegas meninggalkan kafe di tengah taman kota itu.

Dari jendela, dilihatnya taman kota itu mulai ramai. Para kawula muda mulai berdatangan. Raka hampir hapal setiap wajah orang-orang yang sering datang ke taman itu. Karena terkadang mereka berkumpul tidak jauh dari tempat Raka biasa duduk

Raka berjalan lunglai menapaki langkah demi langkah dengan sangat berat. Kakinya tidak rela meninggalkan setiap inci kafe itu. Sepatu Converse yang sudah tampak dekil itu sepertinya merekam banyak kisah di setiap jejak kaki yang Raka lalui bersama Fika dulu. Kisah yang kini menjadi sejarah.

Langkahnya terhenti di depan pohon rimbun tak jauh dari kafe. Pandangan mata Raka menyapu bersih setiap detil pohon itu. Masih ada tulisan Raka ❤ Fika di permukaan kulit pohon itu. Tidak ada yang berubah. Tulisan yang Fika pahat dengan batu masih tertera di sana. Tulisan yang mengingatkan Raka saat duduk di bawah pohon itu sambil mendengar lagu bersama gadis itu satu setengah tahun silam. Satu hal yang berubah, yaitu Fika sudah tak bersama Raka lagi. Semenjak kejadian yang tidak pernah Raka bayangkan setahun lalu. Saat ada orang yang merebut hati Fika dari genggamannya. Orang yang sanggup memberikan mimpi Fika untuk menjadi seorang traveler. Mimpi yang menerbangkan Fika pergi ke setiap tempat yang di seluruh dunia. Tempat yang teramat jauh untuk dijangkau. Mimpi yang menghancurkan separuh hidup Raka.

Raka terpejam sambil menunduk. Air matanya hampir mendobrak pertahanan kelopak matanya. Dengan segera, dia menghampiri parkiran dan menghidupkan mesin motornya. Honda Thunder yang selalu setia mengantar dirinya dan Fika menjelajahi banyak tempat untuk membuat kenangan. Kini, jok belakang motor itu hampa. Tak ada lagi orang yang menjadikannya singgasana untuk menemani Raka membuat sejarah. Suara knalpot sudah berbunyi. Raka memantapkan diri untuk beranjak pergi dan  berjanji tak akan pernah menginjakkan kaki ke taman itu lagi.

Dan mulai detik itu, Raka makin membenci keramaian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s