Sepasang Bibir Terbenam

“Cup, cup, cup…”, terdengar beberapa kali suara kecupan.
Asalnya dari kedua bibir yang sedang membungkam lidah jarak.
Mereka terlalu terlalu lekat, tiada lagi sekat, mereka bebas.
Udara di ruangan itu canggung, mencuri-curi pandang dari dekat.

Irama mereka mengacak, berisik, tetapi tak mengusik.
Mereka hanya mengisi cinta di dada masing-masing.
Tak perlu mencibir mereka yang bising, biarkan saja. Nikmati saja.
Biarkan mereka menikmati sementara tanpa harus pusing.

“Cup, cup, sabar lah sayang,” kata dari salah satu bibir yang manyun, “hari ini, hari terakhir kita berjuang,” lanjutnya pelan.

TRAAAK!!!

Ada yang retak, bukan retak, tetapi pecah, lalu runtuh. Tak lama kemudian, kedua bibir itu dibanjiri air mata. Perih.

“Cup…cup…cup….” Suara terakhir kecupan itu melemah dan berhenti, seiring dengan napas yang terpejam dengan sempurna, kecupan terakhir yang meluncur di kening, dan akhirnya dikenang.

Rindu pingsan, ia terguncang.

Bibir wanitanya menangis kencang.

Tuhan telah menang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s