Rasa Takut yang Mencuat

Rasa takut yang mengingatkan kalo semua itu akan berakhir di suatu hari.

Gue bangun dari tidur dan leyeh-leyeh sebentar. Setelah kesadaran dan otak gue udah mulai singkron, gue bergegas memulai aktivitas hari ini dan mengawalinya dengan mandi lalu berangkat kuliah tepat jam 07.12 WIB.

Gue menaiki si Aoi, motor belalang berwarna biru kesayangan gue yang selalu lebih setia dari siapa pun untuk nemenin gue pergi. Gue menancapkan gas dari rumah gue dan berhenti di lampu merah perempatan jalan Margonda – Juanda, gue matiin mesin motor gue karena gue liat detik waktu yang tertera di lampu merah masih menunjukkan detik 127. Masih sekitar dua menit untuk berganti jadi lampu hijau.

Gue buka kaca helm dan memperhatikan keadaan sekeliling gue sebentar. Udah mulai ramai. Di samping kanan ada bapak-bapak menunggangi motor Scorpio warna coklat dengan helm hitam full face, wajahnya terlihat masih ngantuk. Gue meluruskan pandangan ke depan, tetapi gue memperhatikan bapak-bapak itu dengan ekor mata, bapak ini tinggi gede orangnya. Kayaknya mau berangkat kerja.

Gue liat lagi di sebelah kiri gue, ada mas-mas boncengan sama cewek pake motor mio velg 17 knalpot racing. Cewek yang diboncenginnya adem ayem aja, tapi tampang si mas-nya kayak lagi menyimpan masalah. (Jangan suruh gue deskripsiin tampangnya, bayangin aja mas-mas Jawa gitu lagi bengong.)

Pas gue lagi bengong sebentar dan merhatiin garis-garis zebra cross, tiba-tiba ada satu pertanyaan klise yang melipir di pikiran gue.

“Kenapa masih ada orang yang memendam perasaannya? Seperti orang macam gue,” ucap gue dalam hati.

Ya, gue memikirkan pertanyaan itu tanpa sadar. Intuisi gue langsung menarik nama-nama dan sekelebatan wajah orang yang pernah gue suka, umm.. mungkin sayang. Tapi, pada waktu itu. Dulu. Gue gak pernah berani bilang kalo gue suka atau sayang sama mereka, atau mencoba melakukan pendekatan minimal untuk mengenal mereka lebih jauh.

Gue cuma punya satu alasan: Karena mereka milik orang lain, atau mereka sayang sama orang lain.

Sepertinya semesta selalu penuh konspirasi. Setiap kali gue suka sama cewek pasti dia udah punya pacar. Saat gue sayang sama cewek lagi, gue stalking-in akun socmed-nya dan melihat bahwa dia suka sama orang lain atau… belum move on.

Alhasil, gue cuma memendam perasaan gue sampe perasaan itu musnah dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Berotasi berkali-kali, sampai suatu ketika gue kepikiran.

Kenapa gue gak coba untuk berani lebih dekat?

Gue cuma takut untuk memulai sesuatu yang nantinya menyakiti , entah menyakiti diri gue atau dia (cewek itu), atau malah keduanya.

Belum (terlalu) lama ini, gue sayang sama cewek. Dia jomblo juga dengan hobi dan minat yang sama, yaitu: puisi. Tetapi kendalanya satu: keyakinan kita berbeda.

Gue sempet dilema akan hal itu, gue pikirkan matang-matang dari segala sisi mulai dari yang positif sampai yang negatif banget. Dan gue curhat sama beberapa temen gue yang pernah punya pengalaman berhubungan seperti itu. Jawaban mereka kebanyakan pahit. Sangat pahit.

Dengan banyaknya jawaban pahit yang terlontar, gue semakin takut untuk mulai melakukan sesuatu dengan lebih intensif, seperti kabar, perhatian, atau yang lebih klimaksnya mengungkapkan perasaan gue sama dia. Tapi, selalu aja ketakutan gue lebih besar dari keberanian gue. Gue gak mau ambil resiko yang nantinya menjadi bumerang buat gue dan dia.

Dianya? Ya, terlihat ada respon baik menyambutnya. Mulai dari kabar atau perhatian remeh yang mungkin gak penting, tapi bagi orang yang sedang jatuh cinta itu adalah hal besar. Hal yang menyenangkan. Hal yang membahagiakan.

Buat gue, kurun waktu selama 8 bulan tanpa kekasih itu hambar. Hambar banget. Gue ngerasa kehidupan statis dan gak ada percikan semangat sama sekali, meskipun punya beberapa teman yang support dan bisa mengisi telinga gue dengan tawa, tapi hati gue tetep aja kosong.

Dan, gue merasa ketakutan gue adalah suatu hal yang benar, suatu hal yang menahan, yang mencegah masalah nantinya. Karena setelah gue cerita sama nyokap kalo gue suka cewek yang beda agama, dia langsung menolak dengan alasan yang sangat logis: we are nothing without God. Gak akan ada restu.

Mungkin bisa-bisa aja gue nekat ngejalaninnya sama cewek itu, tapi apakah semua itu akan selalu baik-baik saja? Seperti orang pacaran biasa pada umumnya? Nggak. Pacaran sama yang satu keyakinan, direstui aja bisa bertikai karena masalah sepele. Gue? Yang beda keyakinan? Gue bisa apa. Dan, dia bisa apa? Melawan orang tua? Atau yang lebih parah, melangkahi Tuhan?

Memang, banyak orang di luar sana yang berhasil menjalani itu semua entah dengan cara apa, yang gue sendiri nggak tau. Ada juga temen gue yang sampai sekarang tetap berhubungan sama pacarnya yang beda agama. Tetapi, gue rasa mereka pun mengkhawatirkan hal yang mereka khawatirkan sejak awal, di balik hangat kebersamaan mereka pasti ada rasa takut yang terselip, di balik senyum bahagia mereka pasti ada rasa takut yang mendelik, dan di balik genggaman erat jemari mereka, pasti ada rasa takut yang mengingatkan.

Ya, rasa takut dengan kemungkinan terburuk . Ketika nanti berada di ujung kisah, mereka harus pisah. Karena… Gue rasa gak harus dijabarkan seperti apa.

Jadi, gue bercermin pada diri gue sendiri dan memikirkan lontaran-lontaran cerita dari mereka yang pernah gagal.

Rasa takut yang terlahir dari awal akan membesar dan tumbuh menggerogoti hati dan pikiran, dan menjelma menjadi suatu kenyataan pahit yang benar-benar menakutkan di akhir.

Tetapi, kita emang gak bisa memprediksi waktu, karena waktu bukan sesuatu yang bisa ditebak. Bahkan gue pikir, seorang peramal yang sering meramal orang pun sebenarnya takut meramal dirinya sendiri.

Karena, waktu itu absolut, waktu itu punya kehidupannya sendiri, waktu itu… hanya bisa kita jalani perlahan atau berlari.

Dan, untuk mereka yang sedang menjalani hubungan yang sedari tadi gue renungi, semoga semesta mengakui dan meretui. Semua masih ada kemungkinan.

Entah berakhir dengan isak tangis di ujung jalan, atau gelak tawa bahagia di pelaminan.

TEEEEEEEEEEEEENN TEEEEEEEEEEEEEEEEEN!

Suara klakson mobil dari belakang membuyarkan lamunan gue, gue melirik sebentar melihat lampu merah yang udah berganti warna hijau, gue menyalakan mesin motor dan melanjutkan perjalanan ke arah kampus. Sambil memikirkan beberapa kata maaf yang melayang di  pandangan mata gue.

Maaf untuk diri gue sendiri, untuk perasaan yang sedang tumbuh tapi akhirnya terbunuh, dan untuk dia yang mungkin sudah berharap gue akan menjaga hatinya.

Dan, maaf untuk keberanian yang kali ini gue nilai adalah sebuah kesalahan.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s