Percakapan Mengenai Seorang Gadis

image

“Gimana? Udah dapet?”

Hening. Gue terdiam sejenak dan berpikir kalimat apa yang harus gue keluarkan untuk menjawab pertanyaan ini.

“WOI! Lo ditanya malah diem aja!” Yoga langsung gebrak meja yang misahin tempat di mana kami duduk.

“Udah sih, tapi cuma nama. Santai lah,” jawab gue pelan dan memperhatikan keadaan sekitar yang cukup ramai. Masih ada sekitar lima belas orang yang duduk menikmati suasana malam sambil mengobrol dan menikmati minuman hangat di kafe daerah Depok ini.

“HAH? Nama?! Yang bener aja, Fal, udah dua minggu lo masih stuck di situ aja?” Yoga menggelengkan kepalanya kemudian nyalain rokok yang sedari tadi dia pilin di antara jemari tangan kanannya.

Gue menunduk, alasan apa lagi yang harus gue jelasin? Sobat gue yang satu ini emang pendengar yang baik, tapi dia paling males kalo dengerin alasan yang berbelit-belit.

“Iya, abisnya…, ya gitu deh, Ga. Gue takut,” ucap gue sambil ngegaruk kepala yang sebenarnya gak terasa gatal. Gue memperhatikan sebatang rokok Sampoerna Mild yang terhimpit di antara sela asbak yang masih bersih.

Yoga menghisap rokoknya dengan mata terpejam, seakan-akan dia sangat menikmati asap yang masuk ke paru-parunya. Kemudian Yoga  menghembuskan kepulan gumpalan racun tersebut dengan satu hela napas panjang yang membentuk garis putih lurus, “Elo tuh dari dulu gak berubah, Fal,” ucap Yoga sambil mematikan rokok yang masih tersisa setengah, “Kalo lo emang punya nyali, buktiin! Ajak dia kenalan dan jalan. Itu baru cowok!”

Dahi gue mengerut seketika pas ngedenger ucapan dia. Apalagi saat inget kejadian beberapa waktu lalu.

“Wih manis banget senyumnya nih cewek!” ucap gue spontan, gue langsung zoom avatar-nya dan ngubek-ngubek galeri foto dan video Twitter-nya. Gue liat tweet dia dari yang paling baru sampai dua bulan yang lalu, kemudian gue liat bergantian barisan-barisan foto yang berbentuk slide, kedua mata gue menyipit memperhatikan dengan jeli senyum gadis itu.

Manis. Satu kata yang mengerubungi otak gue.

Selang beberapa lama kemudian, gue memperhatikan pergerakannya di Twitter. Gak ada terlihat tweet-nya dia yang menunjukkan kalo dia udah punya pacar atau lagi deket sama cowok. Gue mulai optimis untuk deketin gadis itu.

Tapi…

“Sekarang gimana langkah awal lo aja, Fal. Lo kan deketin cewek lewat sosmed. Lo yakin suka sama dia? Avatarnya bohong gak tuh?” ucap Yoga membuyarkan lamunan gue. Dia kembali menyalakan rokok putihnya. Dengan cepat dia menyalakan korek, dan satu hisapan panjang langsung dihembuskan bibirnya, “Lo tau kan zaman sekarang cewek jelek aja bisa berubah jadi bidadari cuma modal efek kamera.”

“Iya,” jawab gue singkat.

“Terus kenapa lo kayak orang bingung sih?” Kali ini Yoga yang memperhatikan keadaan sekeliling, “Emang ada apa sama cewek itu, Fal? Dia penyakitan?”

“Enggak.”

“Dia belum move on?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Ah elah, jadi gini…” Gue mendekatkan laptop gue ke arah Yoga. Lalu jari-jari tangan gue dengan sigap mengetik username Twitter gadis itu di kolom search. Yoga menatap penasaran ke arah layar monitor, dia keliatan gak sabar. Dia memicingkan matanya ketika memperhatikan jari-jari tangan gue.

“Eh salah username-nya. Bentar” Gue menggaruk-garuk kepala mengingat username gadis itu,

Yoga tampak gemas, “Buruan lah.”

Gue mengingat-ingat sambil beberapa kali mengetik nama gadis itu di kolom search untuk mengetahui username-nya, “Ah ketemu!”

“Mana-mana?” Yoga langsung menggeser layar monitor ke arahnya. Dia memicingkan matanya sekali lagi, dia melihat gadis berambut panjang selengan dengan wajah tirus dan bibir tipis. Mata gadis itu sedikit sipit dan terlihat makin sipit ketika eyeliner tercetak di antara ekor matanya. Yoga menganggukkan kepalanya lalu berkata, “Ini?”

“Iya, liat tweet terakhirnya dia juga deh.”

Yoga menggeser kursor monitor dan membaca tweet terakhir gadis itu. Dia mengusap wajahnya dua kali, “Hopeless lo kayaknya, Len.”

“Yah, namanya juga hidup,” ucap gue pasrah sambil mengangkat bahu dan menghembuskan napas berat.

Yoga pun melakukan hal yang sama, dia menghembuskan napas berat sambil menggelengkan kepala lalu berkata, “Ya, namanya juga hidup. Kadang kita jatuh cinta sama orang yang benar di waktu yang salah. Kadang juga kita jatuh cinta sama orang yang salah di waktu yang benar. Nah kalo buat kasus lo ini, lo jatuh cinta sama orang yang salah banget di waktu yang salah banget juga. Hahaha.”

“Hahahaha anjir lo!” Gue tertawa garing, “yuk ah cabut, besok kerjaan gue masih banyak.”

“Yuk deh.”

Kemudian gue dan Yoga beranjak ke parkiran dan kami pun berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing. Di tengah perjalanan gue tersenyum sendirian. Sambil memperhatikan jalan yang udah gelap dan sepi, pikiran gue menerawang seandainya gue jadi deketin gadis itu.

—TWEET—

“Ah bangsat tuh cowok! Cewek itu malah dideketin, baru aja mau gue ajak kenalan. Bngst!Bngst!Bngst! Gagal lagi kan gue.”

Sent 1 day ago.

Advertisements

One thought on “Percakapan Mengenai Seorang Gadis

  1. Quotes yg ada dalam cerpen ini adalah

    “Kadang kita jatuh cinta sama orang yang benar di waktu yang salah. Kadang juga kita jatuh cinta sama orang yang salah di waktu yang benar”.

    Dududu Sabar len namanya juga hidup.
    Makanya jangan kelamaan! Inget kata yoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s