Jatu(h)krama

Kembali kita pada sebuah pengulangan, di mana kita pulang pada kenangan.
Pada debar masing-masing dengan rasa yang entah sama atau beda.
Kita sama-sama kehilangan, tepatnya.

Aroma hujan yang ranum dan kecipakan sepasang kaki
Menendang tanah basah, nadanya seolah memaki-maki.

Apa lagi yang harus diributkan dari kehilangan?
Selain pembunuhan sepi atas hatimu sendiri.
Apa lagi yang harus diperkarakan dari kehilangan?
Selain tubuhmu akan dikuliti sunyi perlahan-lahan

Di mana amin dari segala doa yang kita panjatkan bersama kemarin?
Hilang lenyap? dihembus orokan tidur Tuhan?
Dimana amin dari segala air mata yang pecah bersamaan kemarin?
Tekuk lututmu, jika kau sudah lagi tak tahan?

Mari menangis sekencang-kencangnya, hingga malam terdengar membahana, hingga para setan pun enggan mengganggu kita dengan nafsu senggama, membiarkan kita yang sedang bercumbu duka.

Untuk terakhir kalinya…

Duduk manis lah di pangkuanku, redam egomu, sayang.
Kita sudah kalak telak oleh kenyataan.

Kehilangan datang tiba-tiba barusan, tanpa aba-aba, tanpa undangan.
Ku saksikan dia ke sini melewati pipi yang berlumuran air mata.
Jaraknya tak lebih dari sejengkal jari kelingkingmu, terlalu dekat untuk dihindari.

Berdoa lah dan mari mengucap amin seirama, semoga kita kembali bersama di pengulangan nanti.

Biarkan nanti aku mencintaimu melebihi cinta semesta terhadapmu.
Mencintaimu sehari lebih lama dari selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s