Bulir Desember

Kupautkan langkah dengan tergesa-gesa, aku sedang dikejar air mata bulan Desember.
Bulir-bulirnya meninju kepalaku yang isinya hanya kenangan tragis.
Sekali lagi aku melangkah, semakin kencang kudengar Desember menangis.
Petir bersahut-sahutan melolong, mengagetkan tukang jamu dengan bengis, segelas intirsari tumpah dengan cara yang manis.

“Aku sebenarnya melankolis,” kata Desember kepada embun yang bertengger di bangunan tua, “ceria hanyalah topeng luguku saja.” Lanjutnya sambil meringkuk di pojok rumahnya; kalender lecek.

Ia menanak cemas karena menjadi tahanan waktu, ia hampir mampus tergerus, sebab bagian tubuhnya satu persatu disobek harapan manusia yang tampangnya selalu merengus malayuri harapan yang tak tembus-tembus.

Aku prihatin menengok dirinya di kalender yang tahun depan menjadi adonan terompet tahun baru. Kuperhatikan jejeran sisa hari bulan Desember, aku menyentuh angka tiga puluh satu, tiba-tiba Desember menangis kencang, ia berkata, “Semoga tahun depan aku tidak secengeng ini.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s